Kerja sama strategis antara Turkiye dan Pakistan memasuki babak baru setelah muncul laporan rencana pendirian pabrik bersama untuk memproduksi jet tempur generasi kelima KAAN. Proyek ini dipandang sebagai langkah besar dalam hubungan pertahanan kedua negara sekaligus tonggak penting bagi ambisi industri dirgantara Pakistan.
Sejumlah media Turkiye dan Pakistan melaporkan bahwa kesepakatan awal telah dicapai dalam pertemuan ke-8 Pak-Turkish Industrial Expo yang digelar di Pakistan awal bulan ini. Forum tersebut mempertemukan perwakilan dari 32 institusi pemerintah, industri, dan militer dari kedua negara.
Dalam pertemuan tersebut, Ankara dan Islamabad dikabarkan memfinalisasi kerangka kemitraan produksi jet tempur KAAN. Rencana ini mencakup pendirian dan pengoperasian fasilitas manufaktur bersama, yang akan menjadi basis kolaborasi jangka panjang di sektor kedirgantaraan militer.
Menteri Pertahanan Turkiye, Yasar Guler, disebut mengonfirmasi bahwa perjanjian resmi terkait partisipasi Pakistan dalam proyek KAAN hampir tercapai. Pernyataan ini muncul sekitar satu setengah tahun setelah Turkiye pertama kali mengungkap rencana kerja sama pengembangan dan produksi pesawat tersebut.
KAAN merupakan proyek ambisius Turkiye untuk membangun jet tempur generasi kelima dengan karakteristik siluman, avionik canggih, dan kemampuan tempur jaringan modern. Pesawat ini diproyeksikan menjadi tulang punggung Angkatan Udara Turkiye pada dekade mendatang.
Bagi Pakistan, keterlibatan dalam proyek KAAN memiliki makna strategis yang jauh melampaui pengadaan alutsista. Selama ini, Islamabad dikenal sebagai negara yang mampu memproduksi pesawat tempur melalui kerja sama, namun belum pernah terlibat dalam proyek jet siluman kelas berat.
JF-17 Thunder yang dikembangkan bersama China kerap disebut sebagai batu loncatan bagi industri dirgantara Pakistan. Namun, keterbatasan desain dan kelas pesawat tersebut membuat Pakistan belum sepenuhnya naik ke level teknologi tertinggi.
Melalui KAAN, Pakistan berpeluang memperoleh pengalaman langsung dalam manufaktur struktur pesawat siluman, penggunaan material komposit canggih, serta integrasi sistem avionik generasi terbaru. Ini menjadi lompatan institusional yang signifikan dibandingkan proyek sebelumnya.
Rencana pabrik bersama juga menunjukkan perubahan pendekatan Pakistan. Alih-alih mengembangkan pesawat baru dari nol, Islamabad memilih masuk ke proyek besar yang sudah memiliki peta jalan jelas dan dukungan negara mitra yang tengah naik sebagai kekuatan industri pertahanan.
Bagi Turkiye, kemitraan dengan Pakistan menawarkan keuntungan finansial dan geopolitik. Proyek KAAN membutuhkan biaya besar dan basis produksi yang luas, sementara Pakistan menyediakan pasar, tenaga teknis, serta pengalaman panjang dalam produksi pesawat tempur berseri.
Hubungan militer Turkiye dan Pakistan selama ini terbilang erat. Kerja sama di bidang drone, kapal perang, dan modernisasi alutsista telah menjadi fondasi yang memudahkan kolaborasi di sektor jet tempur.
Meski demikian, proyek KAAN tidak lepas dari tantangan. Jet ini masih menggunakan mesin buatan Amerika Serikat, sementara pengembangan mesin nasional Turkiye belum sepenuhnya matang. Faktor ini berpotensi membatasi transfer teknologi tertentu kepada mitra.
Ketergantungan pada komponen Barat juga membuat proyek KAAN rentan terhadap dinamika politik internasional. Bagi Pakistan, yang memiliki sejarah panjang dengan embargo dan tekanan geopolitik, risiko ini menjadi pertimbangan serius.
Namun demikian, analis menilai Pakistan tidak mengejar kemandirian penuh melalui KAAN. Tujuan utamanya adalah penguasaan proses industri, peningkatan kualitas manufaktur, serta kesiapan sumber daya manusia untuk proyek-proyek masa depan.
Jika pabrik bersama benar-benar terwujud, Pakistan akan memasuki fase baru sebagai negara yang tidak hanya merakit, tetapi juga ikut membangun jet tempur generasi kelima. Ini akan mengubah posisi Pakistan dalam peta industri pertahanan global.
Dalam jangka menengah, kolaborasi ini dapat memperkuat daya saing Pakistan di pasar ekspor pertahanan, khususnya bagi negara-negara yang mencari alternatif selain produk Barat dan Rusia.
Bagi Angkatan Udara Pakistan, keterlibatan dalam KAAN juga membuka opsi modernisasi armada tanpa sepenuhnya bergantung pada satu pemasok. Diversifikasi ini dinilai penting di tengah ketegangan kawasan Asia Selatan.
Para pengamat melihat proyek ini sebagai kelanjutan strategi realistis Pakistan. Alih-alih mengejar ambisi besar yang berisiko gagal, Islamabad memilih jalur bertahap dengan mitra yang relatif terbuka dalam kerja sama industri.
Keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada konsistensi politik, stabilitas ekonomi, dan kemampuan kedua negara menjaga proyek tetap berjalan di tengah tekanan eksternal.
Jika terealisasi sesuai rencana, kerja sama KAAN dapat menjadi simbol kebangkitan baru industri dirgantara Pakistan. Bukan sebagai produsen jet siluman mandiri, tetapi sebagai pemain serius dalam ekosistem teknologi tinggi global.
Pada akhirnya, KAAN bukan akhir dari impian Pakistan membangun pesawat tempur canggih. Namun proyek ini berpotensi menjadi jembatan terpenting yang membawa Pakistan dari sekadar ko-produsen menuju negara dengan kemampuan industri dirgantara tingkat lanjut.

0 Comments